Di masa kini, maraknya penggunaan media sosial memudahkan kita untuk melihat apa yang dilakukan orang lain. Pada saat yang sama, melihat berbagai posting sesama dapat memacu keinginan untuk membuat konten yang menarik dan tidak kalah memukau. Secara tidak sadar, orang mulai mengejar konten, berlomba mendapatkan pengakuan sosial. Yang tampak dari luar dan mudah dikomentari seolah menjadi sangat penting, bahkan lebih penting daripada menghidupi identitas diri.

Hari ini kita diajak untuk melihat kembali identitas diri kita. Petrus menuliskan bahwa identitas kita adalah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri (I Petrus 2:9a). Di tengah banyak pilihan yang dapat kita ambil dalam hidup ini, identitas ini yang tidak boleh kita lupakan, yaitu bahwa kita adalah kepunyaan Allah. Bergaul dengan sesama, mengikuti trend dan teknologi, menikmati waktu sendiri melakukan hobi kita, dan sebagainya — tentu boleh dilakukan — tetapi koridornya jelas: bahwa semua itu tidak kita lakukan semata-mata karena keinginan kita sendiri, dengan semua cara yang kita kehendaki — melainkan untuk memuliakan Tuhan, mensyukuri berkat Tuhan, dengan menggunakan cara- cara yang Tuhan perkenan.

Mudahkah hidup seperti ini? Tentu tidak selalu mudah, namun berarti. Bacaan Kisah Para Rasul hari ini mengisahkan tentang perjuangan Stefanus untuk setia sampai akhir. Ia mendapatkan hukuman rajam karena keberaniannya bersaksi tentang Kristus di depan Mahkamah Agama. Namun demikian, Stefanus menundukkan dirinya kepada Tuhan. Ia menyadari akan identitas dirinya sebagai milik kepunyaan Tuhan. Keyakinan ini memampukannya untuk setia sampai akhir.

Dalam hidup kita sehari-hari, terkadang juga terasa sulit untuk setia melakukan kehendak Tuhan. Namun demikian, justru kesetiaan itu yang membuat hidup ini berarti, yaitu saat kita benar- benar berjuang untuk menghidupi identitas kita di dalam Tuhan.

Sebab dengan demikianlah kita memenuhi panggilan itu, untuk mambaritakan narhi latan.naAarhI latan yana hacar ari Tiihan yana

You May Also Like

Pengadilan: Keadilan Atau Kepentingan?

ng hakim dipanggil dengan sebutan : Yang Mulia, karena hakim dipakai Tuhan…

Iman yang Penuh Keberanian

Terkadang, nekat dan berani tampak seperti saudara kembar padahal mereka begitu jauh…

Menyambut Kasih Karunia Allah

Bil 21:4-9; Efe 2:1-10; Yoh 3:14-21 Apa yang anda rindukan setiap pulang…

PAK . (49) 0410070 mail : gkipeterongan@gmail.com Vebsite : www.gkipeterongan.org Disucikan untuk Beribadah kepada Allah yang Hidup

pernah mendengar soal benda atau tempat yang disucikan? but dimandikan ataupun didoakan…