Beberapa waktu lalu kita telah membahas tentang roti yang menjadi makanan pokok bagi orang-orang pada zaman dulu. Roti selalu hadir di dalam keseharian masyarakat pada waktu itu, baik ketika mereka hendak makan maupun ketika mereka melaksanakan ritual keagamaan. Sama seperti roti, Yesus selalu hadir untuk kita semua dan Ia senantiasa memelihara kehidupan kita layaknya makanan yang mengenyangkan kita.
Yesus, sang roti hidup, mengundang kita untuk “menikmati” diri-Nya —yaitu tubuh dan darah-Nya. Orang- orang awam akan kesulitan memahami perkataan Yesus, atau mungkin saja mereka memahami roti hidup secara harfiah. Menikmati roti hidup di sini bukan berarti memakan roti yang dapat mengenyangkan tubuh, melainkan menerima keselamatan dari Allah. Ketika kita menikmati anugerah keselamatan itu, kita menjalani kehidupan ini dengan beriman kepada-Nya dan seturut dengan kehendak-Nya.
Dengan hidup beriman kepada Allah, kita juga menerima hikmat yang asalnya juga dari Allah sendiri. Hikmat ini membantu kita untuk bersikap bijaksana dan melakukan hal-hal yang benar. Sebagai orang Kristen, sudah sepatutnya kita berlaku benar di tengah masyarakat supaya kita bisa memancarkan kasih Kristus yang sesungguhnya. Di dalam suasana perayaan kemerdekaan Indonesia ini, mari kita bersama-sama memperjuangkan kedamaian dan kerukunan sebagai seseorang yang berhikmat sekaligus sebagai warga negara yang baik.
AM