Di dalam kereta, Iman mencari akal
Sepertinya, ia tinggalkan bersama Nur dan Ani
Yang melambaikan tangan saat ia mulai sprint
Menuju peron yang sudah bosan menahan kereta

Padahal, akal itu barang mahal
Hadiah yang ia dapatkan sejak lahir
Tapi, apa daya,
Akal tidak langsung membuatnya kaya
Malah susah dipelihara, bikin pusing keiling-liling

Ia tahu dirinya pandai bicara
Kata-kata Iman bisa dijual mahal
Juga berwibawa
Tiap kali tindakan Iman dipuji banyak orang

Akal tidak ketemu,
Sambil terus melaju, Iman ditelpon Nur
Katanya Nur dan Ani akan menyimpan akal miliknya
Baik-baik, sampai Iman menemui mereka lagi

Tapi, Iman tampaknya
Tidak merindukan Nur dan Ani lagi
Maka akal akan terus tersimpan rapat
Bersama kedua saudara Iman
Yang tidak akan dijumpainya lagi

Iman terus melaju dengan gegabah
Tergopoh gopoh menjauh dan meninggi
dari tujuannya semula
Ia kehilangan akal sekaligus Nur, Ani
secara bersamaan


Sebuah puisi yang menyiratkan perjalanan hidup manusia yang seringkali merasa memegang iman percayanya tetapi kehilangan akal dan nurani, padahal Roma 12 mengingatkan akan pertumbuhan iman seiring dengan pembaruan budi serta cara berpikir yang sesuai dengan pemikiran Kristus. Dari situ nurani pun berkembang, mendorong kita untuk terus melayani sesama. Hingga pada akhirnya, keseluruhan diri kita dipersembahkan bagi kemuliaan Allah. (CPH)

You May Also Like

​Bermisi di Tengah Kesulitan Hidup

​Tantangan ekonomi, konflik, kesulitan atau masalah keluarga sering kali mengaburkan panggilan kita.…

Pengorbanan Kristus Dasar Persembahan Hidup Kita

Seorang abdi dalem keraton Yogyakarta mengabdi kepada raja seumur hidupnya, meskipun tanpa…

”KESELAMATAN DATANG MELALUI YESUS”

Yesaya 60:1-6; Msm 72; Efesus 3:2-3.5-6; Matius 2:1-12 Di saat dunia penuh…