Sebuah lagu lama dengan lirik yang sangat sederhana. Mungkin ba- gian favorit kita ada pada kalimat pertama dan kedua. Rasanya teduh dan syahdu sekali jika kuasa Allah dinyatakan untuk menolong kita. Kita membayangkan seandainya persoalan-persoalan yang kita ha- dapi bisa sesegera mungkin sima dan berganti dengan aneka rahmat yang menghiasi kehidupan kita. Namun sadarkah, bahwa bagian ter- penting lagu ini justru berada pada kalimat ketiga, “Tangan-Nya terbuka menunggulah.” Menunggu apa? Menunggu kita datang ke hadapan- Nya dengan tulus dan rendah hati. Menunggu kita mengakui kebesa- ran kuasa-Nya yang dibalut dengan kasih-Nya yang suci. Menunggu kita sungguh-sungguh percaya dan menyerahkan seluruh hidup dalam rancangan-Nya yang mulia. Tapi, kapan penantian Allah itu bersambut?
Mengakui bahwa Allah berkuasa bukan hanya melalui lontaran kata atau sekedar gagasan, namun membutuhkan kesediaan un- tuk tunduk kepada-Nya. Allah punya otoritas atas hidup kita dan juga kuasa untuk menyelesaikan seluruh persoalan kita. Yang Allah kehendaki dari kita hanyalah datang kepada-Nya den- gan tulus untuk sujud menyembah dan taat (Matius 21:23-32).
Demikian pula dalam kehidupan kita berkeluarga. Menjalani hidup berkeluarga tidaklah mudah. Selain perlu upaya keras untuk menyatukan banyak perbedaan, tapi juga berbagai problem dari luar yang perlu diselesaikan. Mustahil jika kita meng- hadapinya sendiri. Maka setiap anggota keluarga perlu bersepakat untuk selalu datang kepada Allah: bersedia tunduk dan taat kepada- Nya sehingga Allah yang selalu memegang kendali atas hidup ke-
(RK