Mainan di peti kardus yang lusuh
Memunculkan wajahnya lagi
Dengan rona muka yang luyu
Dia mencibir rupaku yang kuyu
Tidak ada sumringah semangat bermekaran
Di ujung bibir, di bola mata,
di pipiku yang terus menggelanyut
Bagaimana tidak?
Enam puluh tahun tangan berhenti menggenggam
Sukacita di peti kardus yang lusuh
Untuk berganti memegang buku-buku pelajaran
Untuk ditukar dengan sebuah kursi dan secarik slip gaji
Berjuang menumbuh-nambahkan barisan angka 0 di sana
Untuk menebus kursi goyang kala lutut mulai bergoyang
Tapi di mana sukacita?
Ikut kusam bersamaan ingatan yang makin mengabur
Wajah pria yang tertunduk di salib berubah
Senyum simpul terbentuk seraya bisikan lembutnya menyapa
“Sayang sekali, kau mencari suka cita
di tumpukkan angka, benda, dan kuasa
Kau lupa datang pada-Ku, Sang Pen-Cipta Suka”
Aku mengemyitkan dahi, menggeleng-gelengkan kepala
Bukan karena tidak setuju, dan mata yang semakin rabun jauh
Aku lupa, pria yang disalib itu siapa.
Mengapa, dia tergantung terus di sana?
Sebuah puisi yang menggambarkan refleksi hidup seseorang yang kehilangan sukacita sejak lama, seiring dia kehilangan dan menjauh dari Yesus. Padahal, seperti yang Paulus sampaikan dalam Filipi 3:4b-11, Paulus menyadari bahwa segala sesuatu tidak berguna, tidak bermakna, tidak membawa sukacita. Sukacita sejati ia dapatkan, seiring pertambahan pengetahuan dan pengenalannya akan Yesus. (CPH)