Belakangan saya merasa ngeri bila melihat di YouTube, rumah- rumah yang diterjang banjir atau ombak besar. Juga gedung- gedung bertingkat yang roboh karena gempa bumi. Gambar- gambar itu mengingatkan saya tentang keluarga-keluarga yang hancur karena tidak kuat menahan badai persoalan. Setelah pandemi ini, masalah-masalah keluarga kian meningkat, yang dipicu oleh problem keuangan, stress, ketidak harmonisan, KDRT sampai kepada perceraian.
Rupanya Tuhan tidak berkenan dengan kehidupan yang
kelihatannya hidup, padahal mati seperti pada jemaat di Sardis
(Wahyu 3:1-6). Demikian juga dengan keluarga-keluarga yang
mengaku Kristen padahal di dalamnya tidak ada roh kehidupan
dan keutuhan. Apakah keluarga Anda saat ini seperti jemaat Tuhan
di Sardis yang disebut sedang : “mencemarkan pakaiannya”?
“ Masih ada waktu untuk dipulihkan. Belum terlambat walaupun bisa disebut “sudah hampir mati”. Tuhan dengan kasih-Nya masih menawarkan walaupun kita sudah merasa “cemar” di hadapan-Nya. Pasutri sudah kehilangan kasih yang mula- mula. Lupa pernah disatukan Tuhan dan berjanji untuk setia sampai kematian memisahkan? Sambutlah tawaran Tuhan dan bertobatlah.
“Mau menunggu kejutan dari Tuhan? Tuhan bisa tiba-tiba datang seperti pencuri, memberi kejutan yang tidak disangka. Keutuhan bisa kembali dengan cara masing-masing mau mengampuni dan menerima kembali setelah saling menjauhi. Bisa juga dengan cara campur tangan Tuhan yang membuat kita sadar dan memiliki titik balik untuk hidup baru. Mau pilih yang mana?
“ Mau utuh atau mau runtuh? Janji Tuhan Yesus bagi yang mau dipulihkan adalah: “Tuhan akan mengakui kembali nama kita di hadapan Bapa-Nya dan di hadapan para malaikat- Nya”. Ingat, tidak ada keluarga tanpa masalah, tetapi jangan mengubah masalah menjadi badai besar atau gempa bumi yang meluluh lantakkan segalanya. (AGP) . (2
it