Keteguhan menyiratkan kualitas manusia yang berlawanan dengan sifat pengecut. Dalam Perjanjian Baru keteguhan dikaitkan dengan rasa percaya diri yang bersumber dari kepasrahan kepada Allah yang telah membangkitkan Yesus Kristus (Ibr 13:6, Yoh 16:33, Kis 23:11).
Keteguhan ditunjukkan oleh Paulus. Ia yang mengalami kelemahan secara fisik, dia menyebutnya duri dalam daging. la sangat menderita dengan kondisi yang dialaminya itu, tiga kali ia berdoa agar Tuhan memulihkannya tetapi Tuhan menjawabnya, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempuma’. Selain itu, Paulus dikenal sebagai rasul yang paling banyak mengalami penderitaan. Ia mengalami kesulitan karena fisiknya, ia ditolak, dianiaya secara fisik, diadili dengan tidak fair, beberap kali dipenjara hingga akhirnya dihukum mati dengan cara dipenggal.
Atas semua hal menyakitkan yang dialaminya selama pelayanannya, ia tetap teguh. Ia berucap, “Karena itu aku senang dan rela di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.
Rasanya kesukaran dan pergumulan yang kita alami sebagai orang Kristen di zaman ini tidaklah seberat dengan apa yang dialami Paulus dan orang-orang Kristen di abad pertama, karena itu tetaplah teguh. Allah yang menaungi Paulus, para nabi dan orang-orang percaya lain dalam deritanya juga menaungi kita dengan kuasa-Nya hingga kini. (PRB)