Tanpa saling direkatkan, sejumlah batu bata bisa diletakkan satu di atas yang lainnya, disusun menjadi satu kesatuan yang membentuk dinding berkeliling. Namun, adakah orang yang membangun rumah dengan cara itu? Batu bata yang tersusun tinggi tanpa saling direkatkan satu dengan yang lain, bisa berbahaya untuk orang di dekatnya. Sedikit saja goncangan, susunan batu bata itu akan roboh.
Kekuatan / kualitas sebuah batu bata bukanlah segala- galanya yang menjamin kualitas bangunan. Selain kualitas yang baik dari masing-masing batu bata, sangat diperlukan campuran semen untuk merekatkan batu-batu bata itu untuk menjadi sisi-sisi dinding yang kokoh. Gambaran ini menjadi pengingat bagi umat Tuhan dalam menerima tugas perutusan dari Tuhan. Tuhan menghendaki agar orang percaya bersatu (Yohanes 17:23), sebagai kesaksian bagi dunia tentang Allah Bapa dan Yesus yang adalah satu.
Bacaan Injil hari ini (Yohanes 17) menceritakan betapa rindu hati Yesus untuk terwujudnya kesatuan umat percaya. Dalam doanya kepada Bapa, Yesus mengungkapkan kerinduan-Nya, “.. Supaya mereka menjadi satu”. Dalam surat 1 Korintus 12 kita juga mendapati gambaran umat Allah sebagai tubuh Kristus, dengan Kristus sebagai kepalanya. Setiap bagian dalam tubuh itu harus terhubung dengan baik, dan kerjasama antar bagian itu memungkinkan tubuh terus hidup, bahkan berkarya.
Sebagai pribadi, mungkin kita masing-masing punya kekuatan yang berbeda dari yang lain. Kita dipersatukan oleh Tuhan dalam jemaat yang beragam, untuk saling terhubung, saling menerima dan bekerjasama. Di tengah kesatuan umat, kekuatan pribadi kita bukanlah yang terpenting. Kita dipanggil untuk terus bergerak dalam kerjasama yang indah, terus hidup menghasilkan karya-karya baik, bersama-sama. Mari kita membangun kesatuan, dan tidak membuka celah bagi tariadinva memarahan Mari kita barsatii anar dunia melihat