Makin disukai Allah dan sesama. Kalimat ini mungkin dapat menjadi kalimat yang membingungkan karena seakan mengajarkan kita untuk menjadi people pleaser, suatu keadaan di mana seseorang selalu ingin memenuhi keinginan orang lain, bahkan ketika ia harus mengorbankan apa yang dimilikinya demi memenuhi hal tersebut. Lagi pula, bagaimana cara agar dapat disukai Allah dan sesama?

Apakah dengan memenuhi semua keinginan mereka? Buktinya ketika aku tidak bisa memenuhinya, mereka bisa saja kecewa. Lantas apa yang sebenarnya mereka sukai? Aku atau memanfaatkanku?

Apakah dengan harta yang berlimpah?

Buktinya ketika kita ada dalam kondisi sulit, mereka terbirit-birit. Lantas apa yang sebenarnya mereka sukai? Aku atau hartaku? Apakah dengan paras yang indah?

Buktinya ketika fisikku termakan oleh waktu, semuanya sima berlalu. Apa yang sebenarnya mereka sukai? Aku atau parasku?

Ternyata di situlah baru aku tersadar bahwa bukan hal-hal duniawi yang membuatku makin disukai. Namun, kasih yang mau menerima adalah kunci.

Ternyata di situlah baru aku tersadar bahwa kefanaan hanyalah sementara dan semua begitu cepatnya sima dan pergi. Namun, kasih tak lekang dan tetap abadi.

Ternyata di situlah baru aku tersadar bahwa segala yang kumiliki tiada berarti. Namun yang membuatku berkenan di hadapan Allah dan menjadi berkat bagi sesama hanyalah kasih dari Sang Ilahi.

Dengan kasih, aku sadar bahwa aku tidak bisa memenuhi semua keinginan orang lain.

Dengan kasih, aku bisa menjadi berkat dan membawa pengharapan bagi yang jatuh dan terpinggirkan.

Dengan kasih, aku dikuduskan untuk berkenan di hadapan Tuhan.

Kiranya kita dapat bertumbuh di dalam-Nya dan saling

You May Also Like

gi Hamka rang zaman Aa Aa NAN AONEIKANI Yang Terbesar, Yang Melayani

Seandainya tinggi badan Anda 180 cm dan tinggi badan temanmu 150 cm,…

Kebangkitan-Nya Mengobarkan – ( Keberanian dan. Pengharapan

| IN A Film The Passion Of The Christ adalah salah satu…