(Lukas 23:1-43)
Dulu, ada seorang pemuda bemama Rangga. Ia pintar, berbakat, dan disukai banyak orang. Tapi makin hari, pujian demi pujian membuatnya haus akan pengakuan. la mulai meninggikan diri, merasa lebih dari yang lain. Saat ditegur, ia berkata, “Kalau bukan aku, siapa lagi?” Sayangnya, kebanggaannya menjadi tembok pemisah antara dia dan sahabat-sahabatnya.
Manusia modem hidup dalam dunia yang mendorong kita untuk menonjol. Media sosial menjadikan pengakuan sebagai tujuan, bukan akibat. Tidak salah bangga akan pencapaian, namun membanggakan diri dapat menjadi batu yang menghalangi kita mengalami kasih karunia.
Yesus, dalam Lukas 23, menunjukkan jalan berbeda. Di hadapan Pilatus dan para pemuka agama, Ia bisa saja membela diri. la memiliki kuasa untuk menyelamatkan diri-Nya. Namun, Ia memilih taat, diam, dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Bapa. Ia tidak membiarkan kebanggaan diri menghalangi misi kasih. Ia mengosongkan diri agar kita diselamatkan.
Renungan ini mengajak kita menggulingkan batu kebanggaan diri. Ketika kita melepaskan gengsi dan memilih kerendahan hati, kita justru mendekat pada kekuatan sejati: kasih yang rela memberi.
Mari bertanya dalam hati: adakah batu kebanggaan yang masih kita genggam? Sudah saatnya menggulingkannya, dan membiarkan Kristus memerintah, bukan ego kita. Amin. (EBWR)