GKI Peterongan

Sisi Gelap Natal

Selamat natal saudaraku apakabar dengan natal kali ini? Mungkin dalam sejarah perayaan natal tahun ini harus dilewati dengan kondisi kelabu, tidak ada semarak natla yang dapat dilihat dan dirasakan. Alih-alih menyambut natal dengan kemeriahan, masih dapat bertahan hidup saja sudah bersyukur. Mengapa? Boleh dikatakan bahwa kehidupan manusia saat ini betul-betul porak poranda dan penuh dengan penderitaan. Bagaimana tidak? Manusia mau tidak mau, suka tidak suka, harus berhadapan dengan pandemi yang saat ini sudah mendunia. Tidak ada tanda-tanda meredanya keganasan virus covid-19 bahkan berkembang semakin berbahaya, karena sifat dari virus ini yang terus mengalami mutasi dan semakin mematikan. Dampak pandemi ini begitu luar biasa, dari sisi kesehatan mengancam kehidupan manusia, bahkan telah memporakporandakan dunia perekonomian, yang tentu akan mendatangkan bencana. Manusia berada dalam penderitaan, ketakutan bahkan air mata. Seolah-olah dunia sedang menuju ke arah rembang petang menyambut kegelapan.

Mungkin situasi dunia saat ini membawa kita pada situasi natal pertama, di mana kelahiran Sang Bayi Kristus yang seharusnya dilalui dengan sambutan dan sukacita dunia, akan tetapi pada kenyataannya di Betlehem terjadi bencana yang penuh histeris oelh karena semua bayi di bawah 2 tahun tertumpah darahnya oleh pedang. Yusuf, Maria dan bayi Yesus yang lemah dan tidak berdaya harus berhadapan dengan sang penguasa yang paranoid atas kekuasaannya yakni Raja Herodes. Ia sering kuatir apabila ada orang-orang yang dapat menggoyahkan bahkan mengancam kedudukannya. Tidak mengherankan bila bayi-bayi dan anak-anak yang lemah yang tidak tahu apa-apa hal jabatan dan kekuasaan harus menanggung akibat dari seorang yang haus kekuasaan.

Demi mengamankan bayi Yesus dan karya keselamatan atas manusia, Yusuf dan Maria harus berjalan berkilo-kilo meter jauhnya ke Mesir untuk menyingkir sementara waktu sampai situasi kondusif. Dan demi karya keselamatan yang besar ini, Yusuf dan Maria rela menjalaninya dengan penuh dedikasi. Saudara bisa membayangkan situasi natal pertama yang diliputi kegelapan, bukan saja gelapnya malam di mana Sang Bayi lahir, tetapi gelap dan pekatnya penderitaan dari orangtua yang kehilangan anak-anaknya usia 2 tahun ke bawah. Yesus Sang Bayi sudah merasakan penderitaan itu sejak mulanya Ia lahir ke dunia dan itu berarti Ia juga merasakan penderitaan kita semua.