Alkisah di suatu tempat, seorang pemuda ingin menjadi murid seorang guru bijak. Karena anak muda ini berkeras hati maka guru itupun berkata “Baiklah, aku akan melakukan perjalanan dan belajarlah menjadi murid.” Saat istirahat guru ini hendak menyelimuti pemuda ini, ditolak. Anak muda ini melakukan sendiri dan merasa dia harus melakukan sesuatu kepada gurunya. Sehingga setiap kali guru ini hendak melakuan sesuatu tidak diijinkan sebab pemuda inilah yang harus mengerjakan itu. Pada akhirnya guru bijak ini berkata “Ijinkan apa yang dilakukan kepadamu dan kerjakan apa yang menjadi bagianmu”. Kisah ini mengingatkan bahwa seseorang tidak akan mendapatkan pemahaman atau pengenalan dengan baik bila merasa dirinyalah yang merasa tepat untuk melakukan sesuatu itu, tanpa mengijinkan orang lain yang melakukannya bagi dirinya.
Sebagai pengikut Kristus, kadang kita lebih giat melayani dan melakukan kegiatan daripada mendengar. Mendengar tidak hanya proses aktifitas telinga menerima informasi namun bagaimana tubuh berproses menerima rasa dari kehadiran Allah dan mau melekat pada-Nya. Penghalang kita adalah kesibukan sehingga menjadi lelah, kering dan tanpa gairah. Kita tidak mampu mendengar Allah yang hadir dan kita justru merenggang relasinya dari Allah. Kita tidak dapat mengenal dan tidak dapat menjadi pengikut yang baik.
Yohanes mengajarkan bagaimana murid-murid itu dapat menjadi pengikut Kristus yang handal. Mereka berjumpa dengan Yesus dalam keseharian mereka. Mereka bertanya di mana Yesus tinggal. Mereka tinggal bersama Yesus (Yohanes 1:38- 39). Para murid mendengar Yesus dan mau menjadi bagian dalam kehidupan Yesus. Perjumpaan dengan Yesus justru mendorong mereka untuk mendengar lalu melekat pada Yesus. Artinya mengijinkan Yesus melayani mereka, mempengaruhi