tilah pelayan, melayani atau pelayanan bukan lagi menjadi barang nang itulah roh kekristenan adanya. Mengapa demikian? Sebab
menjadi pusat dalam hidup kekristenan sendiri mengajarkan: anusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”
risten hal pelayanan atau melayani sudah merupakan hal yang ahannya: apakahpelayan Kristusdalam melakukan pelayanannya sebagai yang utama? Dalam kenyataannya tidaklah demikian, menempatkan dirinya menjadi pusat pelayanan sehingga bukan Intuk kepentingan Kristus, melainkan ia melayani kepentingan a ini jelas bukan melayani seperti yang diinginkan Kristus. Maka kegur para murid yang bermain kuasa dengan menurunkan api nasakan orang Samaria.
1 seseorang harus memahami betul makna sebuah pelayanan, muaskan dirinya sendiri atas nama Tuhannya. Ia bisa menjadi k dan tidak mau melakukan apa-apa lagi bagi Tuhan yang dia yanan seperti ini tidak lagi menampilkan sosok sebagai seorang telah dikuasai oleh hawa nafsu dan keinginan kedagingannya
dan menjadi pelayanNya, seorang percaya harus menyelaraskan
yakni memberi diri untuk dipimpin oleh Roh. Roh itulah yang tahu apa yang diinginkan oleh Kristus serta menempatkan Kristus sentingan pribadinya. “Setiap orang yang siap untuk membajak «ang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” Dengan perkataan Yesus mengikut Yesus dan menjadi pelayanNya? (JS)