(Nehemia 2:9–10; 4:1–9)
Adven keempat mengarahkan kita pada kerinduan akan damai. Namun realitas hidup sering berkata sebaliknya: niat baik tidak selalu disambut baik. Nehemia mengalaminya. Ketika ia pulang untuk membangun kembali tembok Yerusalem, ia tidak hanya membawa izin raja, tetapi juga menghadapi permusuhan dari Sanbalat dan Tobia. Ejekan, ancaman, dan upaya menggagalkan karya baik itu terus datang.
Kisah ini jujur menggambarkan hidup manusia: selalu ada pihak yang menentang, mencurigai, bahkan merusak harapan. Alkitab tidak menutup-nutupi kenyataan itu. Namun iman Kristen juga tidak mengajarkan kita untuk menyerah pada permusuhan. Nehemia memilih jalan lain: berdoa, berjaga, dan tetap bekerja. Ia tidak membalas kebencian dengan kebencian, tetapi menaruh harap pada penyertaan Allah.
Adven mengingatkan kita bahwa damai sejahtera Allah tidak selalu berarti hilangnya konflik, melainkan kehadiran Tuhan yang memberi kekuatan untuk tetap setia melakukan yang baik. Kristus lahir di dunia yang penuh penolakan, namun justru di sanalah kasih Allah dinyatakan.
Perdamaian sejati bukan selalu lahir dari berhentinya permusuhan, tetapi dari hati yang tetap berkarya dalam kasih karena Allah hadir dan memegang kendali. (EBWR)