Seringkali kita lebih cepat menghakimi orang berdosa daripada bersukacita ketika mereka kembali kepada Tuhan. Kita lupa bahwa kita pun pemah “hilang” karena dosa, namun dipulihkan oleh kasih Allah. Pertobatan bukan sekadar meninggalkan kesalahan, tetapi kembali ke pelukan Allah yang penuh kasih. Dan setiap kali ada jiwa yang bertobat, surga bersukacita. Bukankah seharusnya hati kita pun ikut dipenuhi sukacita itu?
Lukas 15:1-10 mengajak kita untuk melihat setiap orang dengan mata Allah. Jangan remehkan siapa pun, sebab di mata Tuhan setiap jiwa sangat berharga. Jika Allah saja mencari yang hilang, bukankah kita pun terpanggil untuk meneladan kasih-Nya? Alih-alih menutup diri atau menghakimi, mari kita membuka hati dan tangan untuk menyambut mereka yang kembali.
Marilah kita belajar bersukacita, bukan hanya karena kita telah diselamatkan, tetapi juga karena sesama kita menemukan jalan pulang. Kasih Allah tidak pemah terbatas, dan Ia selalu siap menyambut setiap orang yang mau bertobat. Pertanyaannya: maukah kita ikut bersukacita bersama surga dengan menjadi saluran kasih bagi mereka yang kembali? (Aca)