Seringkali kita berpikir bahwa menanti itu sangat sulit, terutama jika yang dinantikan tidak kunjung datang. Memang hal itu benar, namun demikian, ada faktor-faktor lain yang bisa membuat penantian kita terasa sangat sulit. Salah satunya, saat kita tidak sepenuhnya mengerti apa yang kita nantikan. Ketika kita berjuang namun belum ada gambaran yang konkret tentang buah dari perjuangan kita. Kita berusaha untuk bersabar, meyakini kondisi akan membaik, namun belum tahu membaik dalam hal apa. Kita mencoba bertekun, namun tidak tahu ketekunan ini akan berbuah apa. Maria, dalam perikop yang kita baca hari ini, mengalami penantian yang semacam ini.
Ketika malaikat mendatangi Maria dan memberitakan bahwa ia akan mengandung – sedangkan Maria belum menikah – ini adalah hal yang sulit dipahami oleh Maria. Ia mencoba bertanya bagaimana mungkin hal itu terjadi, namun jawab malaikat bahwa ia “mendapat kasih karunia di hadapan Allah” tetap tak mudah untuk dimengerti. Namun Maria tahu satu hal, bahwa pesan ini bukan main-main. la meyakini meski dalam keterbatasan pengertiannya, bahwa pesan ini dari Allah. Maka Maria sampai pada sebuah keyakinan, “jadilah padaku menurut perkataanmu itu”. Kalimat ini bukan berarti Maria telah mengerti apa yang akan terjadi. Maria bahkan juga tahu konsekuensi yang ada, bahwa siapapun yang mengandung sebelum menikah akan diperlakukan oleh masyarakatnya seperti seorang perempuan yang kedapatan berzina, yaitu dihukum rajam. Sungguh tidak mudah posisi Maria ini, namun ia tetap mau mempersilakan Tuhan bekerja lewat cara yang tidak sepenuhnya ia pahami. Ia mau menanti dengan ketaatan di tengah situasi yang tak mudah untuk dijelaskan secara logis.
Bagaimana dengan kita? Apakah iman membuat diri kita bisa menerima kehendak Tuhan yang tak selalu mudah kita mengerti? Apakah kita tetap bersedia menanti dalam ketaatan, sambil tetap melakukan bagian kita dengan sebaik mungkin, meski kita belum tahu ke mana semua perjuangan ini akan bemmuara? Kiranya dalam ketaatan hati kita tetap dapat