GKI Peterongan

Pemberian Diri Bukan Karena Terpaksa

Pernahkah kita melakukan sebuah tugas atau pekerjaan dengan berat hati dan merasa terpaksa? Kita berpikir seandainya ada pilihan lain, mungkin kita tidak akan melakukan pekerjaan ini. Tapi sayangnya, tidak ada pilihan lain – maka mau tidak mau, kita harus melakukannya. Mengerjakan sesuatu dengan perasaan terpaksa akan membuat pekerjaan kita itu terasa tidak menyenangkan, bahkan terasa lebih berat. Lain halnya dengan jika kita mengerjakan sesuatu dengan rela hati, sekalipun untuk hal yang cukup berat, kita akan menikmati setiap prosesnya – bahkan mensyukuri setiap kemajuan yang terjadi, sekecil apapun bentuknya.

Sama halnya dengan melalukan pekerjaan dengan terpaksa, jika kita taat kepada Tuhan juga akan karena terpaksa, maka hal mengikut Tuhan akan terasa begitu berat dan kita tidak menikmatinya. Kita akan merasa ketaatan itu sebagai beban, dan bukan kerinduan. Kehidupan spiritual kita menjadi terasa hampa. Tentu kita tidak menginginkan ini terjadi. Hari ini kita merenungkan tentang pemberian diri kepada Tuhan dengan dorongan dari dalam hati, bukan karena terpaksa.

Pada awal karyanya, Yohanes Pembaptis menyerukan seruan pertobatan, agar banyak orang percaya kepada Injil dan bersedia dibaptis sebagai tanda pertobatannya. Pada waktu itu banyak orang memberi diri mereka untuk dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan. Tidak ada yang memaksa dan mengharuskan mereka untuk menerima baptisan itu, tetapi hati mereka tergerak oleh sebuah semangat pemberian diri yang tulus, untuk hidup dalam pertobatan.

Kiranya kerinduan yang seperti itu masih ada pada kita di masa kini. Meskipun kita masih menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan, kiranya dalam hati kita masing-masing tetap terdapat semangat untuk taat memberi diri kepada Tuhan – bukan karena terpaksa, melainkan karena kerinduan kita kepada-Nya. Kiranya Roh Kudus terus mengobarkan kerinduan kita akan Tuhan, sehingga kita dapat terus bertumbuh dalam iman dan menikmati perjalanan iman kita ini bersama Tuhan. (HAS)