Di suatu malam layar ponsel mencoba jadi lampu sorot ia berusaha mengikuti ke mana wajahku pergi
Wajah suram ini ditawari sebuah linimasa yang menampakkan wajah-wajah tersenyum dengan latar kemewahan yang menyilaukan.
Kualihkan mataku sebelum terganggu penglihatanku Namun terlambat, senyumku telah direnggut Menyisakan wajah yang makin tampak lusuh dan layu.
Alkitab tua memandang dari sudut lemari Tertawa kecil seraya membisik tanya, “Kapan terakhir kau bergembira?” Kepala lupa, tapi lutut mengingat Dengan cepat ia menjawab,
“Kala berdoa memanjatkan syukur.”
xxx
Puisi ini saya gubah sekiranya dapat menuntun kita dalam merenungkan, adakah kita sudah terlanjur membiarkan kesedihan terus menerus mewarnai kehidupan kita? Yeremia 31:1-14 mengingatkan bahwa sejatinya kita dapat bersukaria karena Tuhan mengasihi kita dan Ia senantiasa menyatakan kebaikan bagi kita. Cobalah untuk mengisi hari-hari kita dengan syukur dan tetaplah percaya pada kasih setia Tuhan, maka kita akan selalu memiliki alas
untuk bersukacita. (XND) 4 ta
“La,