Dalam kehidupan kita wajar-wajar saja kalau diwarnai 30 ekspektasi: kita berharap sesuatu dari orang lain, dari keadaan,
bahkan dari Tuhan. Namun harus kita sadari bahwa ekspektasi
itu bisa membatasi cara pandang kita, membuat kita kecewa, 00 dan menutup hati dari karya Allah.
Kita perhatikan kehidupan Naaman (2 Raj 5:1-15) dia datang 00 Sengan ekspektasi besar: ia berpikir nabi Elisa akan melakukan
upacara ajaib, namun yang ia terima hanya perintah sederhana
untuk mandi di Sungai Yordan. Ekspektasi yang salah hampir 00 membuatnya kehilangan kesembuhan yang Tuhan sediakan. 30 Dalam Maz 111 mengingatkan bahwa karya Tuhan ajaib 39 adanya, la bekerja dengan cara yang sering melampaui akal
dan dugaan kita. Paulus mengingatkan Timotius (2 Tim 2:8-15) untuk tidak membatasi Injil, sebab firman Allah tidak terikat oleh ekspektasi atau tradisi manusia. Dalam Luk 17:11-19, sepuluh orang kusta disembuhkan, namun hanya satu kembali dengan hati penuh syukur. Ekspektasi sembilan orang lainnya membuat mereka berhenti pada kesembuhan jasmani, sedangkan hanya satu yang melihat kuasa Tuhan secara penuh dan bersyukur.
Ada beberapa hal yang dapat kita renungkan :
1. Ekspektasi yang salah bisa membuat kita mengecilkan orang lain (seperti Naaman meremehkan Sungai Yordan dan nabi Elisa).
2. Ekspektasi yang salah bisa membatasi kuasa Tuhan (hanya mau melihat Tuhan bekerja sesuai kehendak kita).
Marilah kita membuka hati dengan tulus, yang berarti rela melihat orang lain sebagaimana adanya, dan melihat karya Tuhan dengan kerendahan hati. Marilah sebagai orang beriman kita tidak menempatkan Tuhan di dalam bingkai ekspektasi kita, melainkan percaya bahwa cara-Nya selalu lebih baik. Mari kita belajar melepaskan ekspektasi yang salah. Seperti Naaman yang akhimya merendahkan diri. Dengan begitu, kita tidak lagi membatasi kuasa Tuhan, melainkan mengalami karya-Nya gg — yang penuh kasih dalam relasi dengan-Nya dan sesama.