Malam itu sunyi. Para murid berkumpul dalam ruang terkunci, jantung mereka berdegup penuh ketakutan. Gurunya telah mati—disalibkan, dikuburkan. Semua seolah berakhir. Namun, di tengah kecemasan itu, Yesus datang. Damai bagi kamu, kata-Nya. Ia menampakkan diri, hidup!
Tapi tidak semua hadir malam itu. Tomas, si logis dan kritis, tak ikut. Ketika teman-temannya berkata: “Kami telah melihat Tuhan,” ia menjawab, “Kalau aku tidak melihat bekas paku… aku tidak akan percaya.”
Dunia kita sangat akrab dengan suara Tomas. Percayaitu harus ada bukti. Harus logis, rasional, masuk akal. Apalagi di zaman ini: “Lihat dulu, baru yakin.” Tetapi Tuhan Yesus membalik cara pandang itu. Ia berkata, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”
Yesus menghampiri Tomas delapan hari kemudian. Ia tidak memarahi, tapi menunjukkan tangan-Nya. Tomas tersungkur, “Ya Tuhanku dan Allahku!”
Iman bukan sekadar hasil pengamatan, tapi keputusan hati yang mengenal Dia. Kristus yang bangkit hadir menembus ketakutan, mengubah keraguan jadi pengakuan.
Kita pun seperti Tomas—sering ingin bukti sebelum percaya. Tapi Yesus tak menunggu kita sempurna. la mendekat, masuk ke ruang terkunci dalam hati kita, menawarkan damai dan hidup.
Dalam kelemahan, dalam sakit, dalam bingung arah— percayalah! Kebangkitan-Nya adalah janji bahwa hidup menang. Bahwa dalam gelap pun, Tuhan tetap hadir. Percayalah! Sebab itulah yang Tuhan kehendaki. Amin.
(EBWR)