Sangat tidak mudah bagi pasangan suami istri ini saat putranya lahir tanggal 4 Desember 1982 tanpa dua lengan dan dua kaki karena penyakit Tetra-amelia yang sangat langka.
Anak itu bernama Nick Vujicic. Rasa rendah diri dan putus asa sangat kuat. Derita penolakan, ejekan, dan pem-bully-an dari teman-temannya menjadi beban berat dan hidup makin gelap. Nick sempat berpikir untuk mengakhiri hidupnya supaya bebas lepas dari segala derita. Beberapa kali percobaan bunuh diri itu pun selalu gagal.
“.. Pada saat itulah, saya menyadari bahwa Tuhan memang menciptakan kita untuk berguna bagi orang lain. Saya memutuskan untuk bersyukur, bukannya marah, atas keadaan diri sendiri!..” inilah ucapan pria tak sempurna itu dan yang sudah mencoba bunuh diri beberapa kali. Ternyata ketika hidup berada di titik nadir, Nick tersapa oleh Tuhan melalui sebuah artikel tentang seorang pria cacat tubuh yang mampu melakukan hal-hal hebat, termasuk menolong banyak orang.
Nick bertobat dan menerima kasih Allah. Allah mengampuni dia dan mengubah hidupnya menjadi berkat bagi banyak orang. Dia menjadi seorang pembicara motivasi, penulis, suami, dan ayah yang bahagia. Kisah Nick Vujicic ada dalam bukunya yang berjudul Life Without Limits.
Kisah nyata ini mengingatkan kita bahwa Tuhan yang Adil dan penuh Kemurahan adalah sebuah fakta yang tidak dapat berubah. Perkataan Nick “Saya memutuskan untuk bersyukur” menjadi titik balik Nick. Sesungguhnya hidup sudah dalam Kemurahan Tuhan tetapi situasi dan kondisi, kita mudah berubah dan melupakan Kemurahan Tuhan.Namun saat kita mau beriman dan bertobat maka Keadilan dan Kemurahan Tuhan dapat dirasakan.
Pemazmur pun demikian, ””Kepada-Mu, ya TUHAN, kuangkat jiwaku, Allahku, kepada-Mu aku percaya”. Pemazmur memutuskan mengangkat jiwa dan percaya kepada Tuhan. Pemazmur percaya kesetiaan dan kasih Tuhan akan membimbing dan menunjukkan jalan kepada orang percaya. Bagaimana dengan saudara? Masihkah dikuasai oleh situasi dan keadaan yang makin gelap? Belajar. dari Nick dan Pemazmur “Saya