Jika ingin berlari cepat, maka berlarilah sendiri, tetapi mungkin engkau akan kesepian. Jika ingin memiliki sahabat, maka berjalanlah bersama yang lain, tetapi mungkin jalanmu akan lebih lambat. Mana yang akan kita pilih?
Rut memilih yang kedua. Jika ia meninggalkan Naomi, mertuanya, maka ia bisa berjalan lebih cepat dan bebas, atau ia bisa segera mencari suami yang baru. Tetapi karena ia memilih tetap bersama Naomi – seorang janda berusia lanjut – maka langkahnya menjadi lebih lambat dan ia harus bekerja keras demi memenuhi kebutuhan hidupnya dan mertuanya itu.
Mengapa Rut memilih jalan yang sulit itu, padahal jelas-jelas Naomi sudah berterus terang bahwa ia tidak punya apa-apa lagi yang bisa diberikan kepada Rut dan tidak ada keterikatan lagi antara Rut dan Naomi karena Rut tidak memiliki anak dari pernikahannya dengan Mahlon, anak Naomi? Tidak ada hal lain yang bisa menjelaskan alasan Rut selain karena kasih. Meski usia pernikahan Rut dengan Mahlon tidak terlalu lama (hanya sekitar 10 tahun), namun Rut belajar untuk mengasihi mertuanya dengan tulus. Kasih yang tidak mengharap imbalan dan kasih yang rela berkorban. Dengan dasar kasih seperti itulah Rut rela mengikuti Naomi pulang ke kampung halamannya dan merawat mertuanya.
Di tengah dunia yang mengidolakan percepatan, tentu jalan yang ditempuh Rut menjadi pilihan yang langka sekaligus berharga. Bukan sekedar menemani dan berjalan bersama, namun juga sebuah pengabdian dan pengorbanan. Dan di balik semuanya itu ada dasar keberserahan penuh pada Sang Pencipta, bahwa meski jalan itu tidak menjanjikan apapun namun hidupnya akan tetap terpelihara. Bagaimana kita akan menghayati dan menghidupi nilai-nilai yang telah diteladankan oleh Rut, seorang perempuan sederhana dari bangsa asing yang bahkan pada awalnya belum mengenal Tuhan? (RKG)