Di jemaat Korintus, meja perjamuan pernah menjadi saksi bisu atas sebuah ironi besar. Momen yang seharusnya mempersatukan justru mempertegas jurang pemisah: mereka yang kaya berpesta dengan bekalnya sendiri, sementara saudara yang miskin dibiarkan lapar dan malu. Paulus menyebut pertemuan itu: “Bukan perjamuan Tuhan” (ay. 20).

Mengapa? Karena Perjamuan Kudus tidak bisa dipisahkan dari Persaudaraan.

Saat kita menerima potongan roti, kita diingatkan bahwa tubuh Kristus dipecah-pecahkan justru untuk menyatukan kita yang tercerai-berai oleh dosa dan ego. Di meja ini, semua atribut duniawi (kekayaan, jabatan, status) dilepaskan. Kita semua duduk setara sebagai orang yang membutuhkan kasih karunia Allah. Perjamuan ini bukan sekadar ritual kesalehan pribadi antara “aku dan Tuhan”. Ini adalah ritus kebersamaan. Mustahil kita menghormati Kristus sang Kepala, jika pada saat yang sama kita merendahkan atau mengabaikan sesama anggota Tubuh-Nya. Roti yang satu itu mengikat kita menjadi satu keluarga.

Maka, sebelum tangan kita terulur menyambut cawan itu,
mari kita luruskan hati. Perjamuan ini adalah momen untuk
meruntuhkan tembok permusuhan dan membangun jembatan
pengampunan. Sebab di meja Tuhan, kita bukan lagi sekadar
jemaat yang hadir, kita adalah saudara yang saling memiliki.
Selamat merayakan Perjamuan Persaudaraan. (ACA)

You May Also Like

Pengharapan Yang Terpenuhkan

Ketika seorang anak kecil baru bisa berjalan, seringkali ia akan pergi ke…

Berjumpa Dia Di Sepanjang Jalanku

Baru-baru ini sebuah TV swasta menayangkan kesaksian Ibu dari anak korban pelecehan…

Perempuan Sebagai Pemimpin

Kepemimpinan Kristen (3) Hakim-Hakim 4:1-7 Saat Fariana Dewi menyatakan minatnya bekerja di…

Tak Terhenti Meski Tersakiti

Dalam sejarah bangsa Israel mereka berkali-kali menghina nabi-nabi yang diutus oleh Tuhan…