GKI Peterongan

Bila Ditolak dan Dilukai

Pada tahun 60-an masehi, orang – orang percaya diperlakukan secara kejam olah masyarakat lainnya. Banyak di antara mereka yang disiksa dan dibunuh di bawah pemerintahan Kaisar Nero, termasuk Petrus dan Paulus. Yohanes Markus yang hidup di zaman itu digerakkan untuk menulis Injil Markus. Maksudnya sebagai tanggapan penggembalaan terhadap penganiayaan ini. Ia ingin agar dasar iman orang percaya menjadi kuat dan setia untuk menghadapi penganiayaan dan penderitaan karena Kristus.

Markus menguraikan tentang perlakuan brutal yang diterima oleh Yesus. Yesus yang berbuat baik namun difitnah dan dituduh sebagai pengikut setan. Ia menyembuhkan banyak orang tetapi dilukai dan diperlakukan tidak manusiawi. Ia bekerja keras melakukan kebajikan tetapi dianggap jiwanya terganggu dan gila. Ia banyak menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua – tua, imam – imam kepala dan ahli – ahli taurat sampai akhirnya dibunuh. Namun ada akhirnya Dia menang, bangkit dari kematian dan menawarkan hidup yang kekal kepada setia orang percaya kepada-Nya. Karena ketaatan-Nya sampai akhir, keteguhannya menghadapi fitnah, penolakan serta penganiayaan maka kepada-Nya dikaruniakan nama di atas segala nama. Nama yang olehnya semua lutut bertelut. Nama yang olehnya manusia diselamatkan.

Alkitab banyak mencatat bahwa penolakan, fitnah bahkan penderitaan adalah harga dari kemuridan. Pieris seorang teolog Asia mengatakan, ‘Agama Kristen itu adalah agama penderitaan, dan penderitaan itu adalah satu – satunya jalan menuju kemuliaan’. ‘Kristus dimuliakan karena tegar menghadapi segala bentuk penganiayaan dan setia sampai mati’ lanjut Pieris.

Dalam segala zaman orang – orang percaya mengalami hal serupa. Kita ditolak dan sering dituduh sebagai orang – orang sesat dan kafir. Kadang – kadang disingkirkan dan ditolak menempati posisi – posisi strategis. Bahkan ada daerah yang menolak mayat orang – orang Kristen dimakamkan di sana. Namun menghadapi semua itu hendaklah catatan Markus tentang Yesus menjadi teladan bagi kita. Kita harus akrab dengan penolakan. Merangkul rasa sakit dan tetap mengasihi walau dimusuhi. Kualitas kita justru harus memancar di tengah firnah dan penolakan karena itulah bukti kemuridan kita. – PRB

Pieter Randan Bua

Pieter Randan Bua