GKI Peterongan

Dipulihkan untuk Kembali dalam Rencana Allah

Menurut para penafsir bahwa pertanyaan Yesus yang diulang tiga kali, ‘Simon anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku? Merefleksikan penyangkalan Petrus sebanyak tiga kali akan Yesus dan percakapannya pada Perjamuan Terakhir.

Jawaban Petrus terhadap pertanyaan Yesus itu tidak menjawab yang Yesus maksud. Yesus bertanya apakah engkau mengasihi Aku? Petrus justru menjawab, ‘su hoida hoti philo se (Ya Tuhan Engkau tahu aku rekanmu). Yesus melontarkan pertanyaan yang sama kedua kalinya. Petrus menjawab dengan jawaban yang sama, ‘Ya Tuhan saya sahabat-Mu).

Pada zaman itu makna sahabat dipengaruhi oleh pemikiran Aristoteles, Stoisisme dan  Epictetus.  Seorang sahabat, menurut mereka, adalah orang yang menikmati dan dinikmati kehadirannya oleh sahabatnya. Sahabat pasti bersekutu di dalam niat, sifat, sikap, dan visi hidup. Sahabat membentuk persekutuan yang memiliki bobot sejati, bersama dalam suka dan duka.

Untuk ketiga kalinya Yesus bertanya, ‘Apakah engkau mengasihi Aku seperti seorang sahabat?’ Petrus tak bisa menjawab lagi bahwa ia adalah sahabat Yesus. Ia sadar bahwa ia bukanlah sahabat karena saat Yesus dalam kesusahan justru Petrus mengaku tak mengenal Yesus bahkan pergi meninggalkan-Nya.

Meski demikian Yesus menerima Petrus apa  adanya dan memberikan tugas mulia kepadanya untuk menjaga orang – orang yang dikasihi-Nya. Yesus berkata, ‘Gembalakanlah domba – domba-Ku’. Yesus menunjukkan arti seorang sahabat (philo se) kepada Petrus yang menerima dirinya apa adanya walau telah menyangkal-Nya. Yesus tak menaruh stigma negatif kepada Petrus melainkan memberinya kepercayaan besar yaitu menjaga orang – orang yang dikasih Yesus.

Arti seorang sahabat yang ditunjukkan Yesus kepadanya mengubah pikiran, hati dan sikapnya. Ia dipulihkan. Sejak saat itu Petrus yang penakut berubah seorang pemberani. Petrus yang gampang terombang ambing berubah menjadi orang yang tak bisa digoyahkan imannya.

Sejarah mencatat bahwa Petrus menunjukkan kasih yang tak tanggung – tanggung terhadap Yesus. Ia menjadi orang yang sangat berani memberitakan Kasih Kristus kepada orang lain. Tak hanya itu ia merasa tak layak mati seperti Gurunya, karena itulah ia meminta agar disalib terbalik. Saat dirinya akan dihukum mati ia berkata penghukumnya, ‘saya tidak layak mati seperti Kristus karena itu saliblah saya dengan cara terbalik’.

Kiranya pemulihan serupa juga terjadi dalam hidup kita, agar rencana – rencana Allah terlaksana dalam dan melalui kita. Amin – PRB 

Pieter Randan Bua

Pieter Randan Bua