Akrabkah kita dengan kata “karantina”? Meski sejak lama telah dikenal, mungkin kita merasa lebih akrab dengan kata ini sejak pandemi COVID-19 melanda. Kata karantina berasal dari bahasa Venesia, guarantena, artinya “empat puluh hari”. Kata ini muncul di sekitar abad ke-14, pada saat Eropa dilanda pandemi yang dikenal sebagai wabah hitam, atau Black Death. Pada masa itu, para pelaut harus melakukan isolasi diri selama empat puluh hari setelah pulang melaut. Hal ini dilakukan sebagai upaya preventif penularan, karena dikuatirkan mereka membawa wabah dari tempat sebelumnya. Sesudah empat puluh hari, mereka dapat kembali bersosialisasi di tengah masyarakat.

Menyendiri, menarik diri dari keramaian dan rutinitas, merupakan inti dari karantina. Pada bacaan Kisah Para Rasul hari ini kita membaca tentang murid-murid yang berkumpul dan berdoa bersama, menantikan turunnya Roh Kudus, sebagaimana yang dijanjikan Tuhan Yesus. Para murid menaati pesan Tuhan Yesus untuk tidak meninggalkan Yerusalem. Mereka menanti dengan terus berdoa. Di masa penantian itu mereka tidak hanya menjalani “karantina bagi tubuh”, melainkan juga “karantina bagi jiwa”. Di masa itu mereka dibentuk, dipersiapkan untuk menerima Roh Kudus.

Seorang ahli Kitab Suci Yahudi yang bernama Abraham Heschel pernah berkata, “Doa memperjelas harapan dan niat kita. la membantu kita menemukan harapan sejati kita, kepedihan yang kita abaikan, kerinduan yang kita lupakan. Doa adalah tindakan pemurnian diri, karantina bagi jiwa”. Bagaimana dengan kita selama ini? Apakah kita merasa bosan berdoa, merasa tak ada gunanya berdoa, sering melewatkan saat-saat doa, ataukah kita menikmati saat-saat berdoa itu sebagai karantina yang menyegarkan dan menguatkan jiwa kita? Kiranya kita sungguh- sungguh mengalami kedekatan dengan Tuhan dan merasakan kekuatan-Nya melalui setiap waktu doa kita. (HAS)

You May Also Like

Ayub dan Para Sahabatnya Penghibur Sejati VS Penghibur Sialan

“Sudah jatuh terjepit eskalator”, itulah Ayub. Dirinya menderita lahir batin,  sahabat-sahabatnya datang…

Diberi Berbeda Agar Saling Memperlengkapi

Efesus 4:1-16   Kelima jari yang kita miliki, memiliki nama, bentuk, dan…

Berbela Rasa Pada Semua

Berbela rasa adalah sebentuk sikap yang digerakkan oleh empati, turut merasakan pergumulan…