Dalam budaya Tionghoa, dikenal falsafah HAO (baik) dan PUT HAO (tidak berbakti). Falsafah ini gabungan dari hormat dan kasih. Hal ini bisa dilihat dalam sikap memberi hormat (PAI CIA) kepada orang lain juga kepada Tuhan. Untuk orang yang sebaya umurnya, genggaman telapak tangan cukup di depan dada pribadi. Untuk orangtua/ yang dituakan, posisi sejajar kening, dan untuk Tuhan harus di atas kepala.
Di dalam Alkitab, falsafah menghormati dan mengasihi ini sudah ada sejak zaman Musa dalam 10 Hukum Tuhan. (Kel. 20:12) Paulus menuliskan kembali sikap hormat dan kasih itu dalam Ef. 6:1-7. Bagaimana hubungan anak terhadap orang tua dan sebaliknya, juga hubungan kita kepada Tuhan.
Ketaatan yang tidak bisa ditawar. Ketaatan anak kepada orang tua itu HARUS. Dalam keluarga Kristen, ketaatan bukan sekedar budaya, tetapi dalam rangka tunduk kepada hukum Tuhan. Ketaatan dimulai dari anak-anak, karena dari sinilah pendidikan keimanan itu dimulai. Anak diserahkan kepada Tuhan dalam baptisan, dikenalkan kepada Tuhan dalam keluarga, ikut dalam Sekolah Minggu sampai kepada pengakuan percaya secara pribadi. Jangan remehkan hal ini agar kita tidak menyesal di kemudian hari. Anak-anak hidup tidak seiman dan di luar jalur yang baik.
Orangtua menjadi role model. Menghormati ayah dan ibu adalah PERINTAH YANG PENTING. Orangtua harus menjadi Firman yang hidup dalam keluarga, bisa dipercaya dalam kata dan perbuatannya. Bapa dan ibu harus menjadi agen penyalur ajaran dan nasihat Tuhan. Adalah tidak bijaksana jikalau anak hanya diperintah tetapi tidak diberi contoh dan kalau salah lalu dimarahi.
Bayangkan buah yang bakal dipetik. Kalau hari ini kita salah menaburkan benih dan tidak memeliharanya, maka jangan harap kita melihat pohon yang subur dan buah yang sedap untuk dimakan. Ingat anak bukan investasi, tetapi aset milik Tuhan dan orang tualah yang harus mengelolanya. (AGP)