GKI Peterongan

Layakkah Kita Marah Kepada Tuhan?

Pernahkah Saudara marah kepada Tuhan? Banyak orang pernah marah kepada Tuhan dan menganggapnya sebagai suatu respons yang wajar di tengah sakit yang tidak kunjung sembuh, atau di tengah duka yang mendalam, atau saat permohonannya belum dikabulkan oleh Tuhan. Jika Saudara pernah marah kepada Tuhan, pernahkah terpikir juga pertanyaan ini: Layakkah kita marah kepada Tuhan? Pertanyaan ini bukan tentang kemarahan itu sendiri, melainkan tentang kelayakan bersikap marah kepada Tuhan. Mungkin memang ada sesuatu dalam doa kita yang belum dikabulkan oleh Tuhan, tetapi bukankah kita masih menerima berkat yang lain? Bahkan, bukankah hidup kita ini adalah anugerah?

Yunus marah kepada Tuhan karena Tuhan tidak jadi menghukum penduduk Niniwe. Tuhan telah merancangkan hukuman bagi Niniwe karena kejahatan mereka, dan Yunus diutus untuk memberitakan penghukuman itu. Namun kemudian orang Niniwe menyesali kejahatannya, berpuasa dan bertobat. Jumlah mereka lebih dari seratus dua puluh ribu orang. Pertobatan ribuan orang ini mestinya merupakan berita sukacita besar. Tetapi tidak bagi Yunus. Ia marah kepada Tuhan atas keputusan-Nya. Yunus tidak ingin orang Niniwe diampuni.

Dalam percakapan-Nya dengan Yunus, dua kali Tuhan bertanya: “Layakkah engkau marah?” Kita tidak mendapati jawaban Yunus pada pertanyaan yang pertama, namun kita dapat melihat sikap hatinya yang masih marah. Ia memandang kota Niniwe dan menantikan Tuhan berbuat sesuatu untuk menghukum mereka. Sedangkan pada kali yang kedua Tuhan menanyakan pertanyaan yang sama, Yunus menjawab, “Selayaknya aku marah!”. Ia merasa layak untuk marah kepada Tuhan. Meskipun demikian, Tuhan dengan sabar berdialog dengan Yunus, menolong Yunus untuk mengenali kasih-Nya kepada orang Niniwe.

Kitab Yunus berakhir tanpa pemberitahuan tentang apa yang dilakukan Yunus kemudian. Tetapi setidaknya kisah ini mengingatkan kita bahwa Tuhan begitu penuh kasih. Hikmat-Nya tak terselami. Dalam kasih dan hikmat-Nya, Ia datang menjadi manusia untuk menyelamatkan kita. Tuhan jugalah Pemilik hidup kita. Jika demikian, layakkah kita marah kepada-Nya? (HAS)

Arsip