GKI Peterongan

Mengingat Kasih Karunia Perjanjian

Saat seseorang jatuh cinta, apa yang biasa ia lakukan pada malam hari menjelang tidur? Saat suasana sudah tenang dan tak ada lagi yang dikerjakan, apa yang terjadi dalam alam pikirnya? Biasanya pikiran akan melayang, mengangkat kembali memori tentang segala hal indah yang terjadi bersama sang kekasih di sepanjang hari  itu. Seolah menyayangkan jika peristiwa itu hanya berlalu begitu saja. Ia rindu untuk mengenangnya dan terus merasakan kebahagiaan yang didapatnya bersama yang terkasih, hingga akhirnya ia pun terlelap dalam sebuah bingkai senyuman…..

Indahnya jika kita sedang jatuh cinta, bukan?….. Lantas, pernahkah kita jatuh cinta kepada Bapa di Surga? Atau mungkin lebih baik jika ditanyakan seberapa sering kita jatuh cinta kepada-Nya, sehingga selalu mengingat hal baik yang kita alami bersama-Nya? Saat kita sedang menghadapi tantangan dalam bekerja, apa yang kita ingat tentang Bapa: kasih-Nya yang memberi kita kesempatan untuk bekerja, atau kejengkelan kepada-Nya karena kita anggap Dia tidak segera menolong? Saat kita sedang makan sepiring nasi dengan lauk sederhana, apa yang kita pikirkan tentang Bapa: ucapan syukur atas berkat yang kita terima hari itu, atau keluhan karena tidak adanya lauk yang lebih mewah seperti yang disantap orang lain? Saat kita kerepotan dalam mengasuh anak, apa yang kita katakan kepada Bapa: terima kasih atas buah hati yang Engkau berikan, atau pertanyaan mengapa Engkau memberikan anak semacam ini? Saat kita hendak lelap dalam tidur, apa yang kita pikirkan: mengenang penyertaan dan kekuatan yang Bapa berikan sepanjang hari ini atau ratapan atas banyaknya perkara yang harus kita hadapi?   

Manusia memang mudah lupa. Maka Tuhan menghendaki kita untuk mengadakan momen-momen peringatan, agar kita tertolong untuk dapat mengingat kembali apa saja yang telah Tuhan lakukan bagi kita. Salah satunya adalah perintah untuk merayakan Paska. Pada masa Perjanjian Lama, Paska dirayakan untuk mengenang karya Tuhan yang membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir. Maka meskipun kepemimpinan telah berganti dari Musa kepada Yosua, bangsa Israel tetap merayakannya (Yosua 5:10). Perayaan ini bukan demi kepentingan Tuhan, melainkan justru untuk umat manusia itu sendiri. Dengan mengingat, maka iman kita akan terus diperbarui dari masa ke masa. Sehingga ketika kita mengalami kesulitan yang baru, kita akan terus melaju dengan penyerahan diri penuh kepada Bapa, sebab kita ingat kasih karunia-Nya tak pernah berhenti mengalir. Ia yang telah berjanji untuk selalu menyertai kita, Ia akan senantiasa menepatinya.  (RKG)

Pdt. Ibu Rinta Kurniawati Gunawan