Seringkali kita berpikir misi Allah hanya terjadi saat menjadi penginjil, pergi ke pedalaman, atau berdiri di mimbar. Kita memisahkan yang “kudus” dari yang “sehari-hari”. Padahal, medan misi terbesar adalah Senin hingga Sabtu Anda—di kantor, rumah, sekolah, dan jalan raya.
Tuhan tidak memanggil kita menjadi “pahlawan panggung”, melainkan “sahabat jalanan” yang menjadi berkat.
Misi bukan tentang seberapa jauh kita pergi, tapi seberapa dalam kita mengasihi di tempat kita berdiri. Banyak orang Kristen hidup seperti “tinta tidak terlihat”: ada di tengah masyarakat, tapi dampak dan karakter Kristus tak terbaca oleh sesama.
Firman Tuhan hari ini dalam Ibrani 13:1-8 mengajarkan misi melalui kasih yang membumi: Kasih persaudaraan dan keramahtamahan: Menjamu orang asing (bahkan berisiko) = menjamu malaikat tanpa sadar.
”Merenungkan” firman bukan berarti mengurung diri di kamar, tapi mempraktikkannya dalam setiap aktivitas (bekerja, berjalan, makan). Kehadiran kita menjadi misi saat menjadi peneduh bagi yang kepanasan karena beban hidup.
Misi Allah bukan program gereja, tapi gaya hidup setiap hari. Rumah, kantor, pasar, jalan raya = ladang misi Anda.
Jadilah “surat Kristus” yang terbuka, yang dibaca orang patah hati dan kehilangan harapan.
Selamat menjadi utusan Kristus. Amin