Matius 17:1–13
Dalam peristiwa Yesus dimuliakan di atas gunung, Allah menyatakan perkenanan-Nya: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi.” Perkenanan itu tidak dinyatakan setelah jalan Yesus selesai, melainkan ketika Ia masih setia melangkah menuju salib. Ini menantang kita untuk bertanya: apakah aku hanya mengharapkan perkenanan Tuhan saat hidup terasa mudah, atau juga ketika jalan terasa berat?
Kita sering ingin tinggal di atas gunung, menahan pengalaman rohani yang indah seperti Petrus yang ingin mendirikan kemah. Namun hidup selalu mengajak kita turun kembali ke kenyataan. Di sanalah kesetiaan diuji; ketika iman tidak selalu hangat, ketika doa terasa sunyi, dan ketika Tuhan tampak diam. Apakah aku masih mau berjalan bersama-Nya di lembah?
Kesetiaan bukan soal mempertahankan rasa nyaman, melainkan keberanian untuk taat pada suara Allah, bahkan ketika firman-Nya membawa kita pada jalan yang tidak sepenuhnya kita mengerti. Suara siapa yang paling sering menentukan langkah hidupku?
Perkenanan Allah bukanlah upah bagi yang sempurna, melainkan anugerah bagi yang setia. Kesetiaan sering hadir dalam hal-hal kecil dan sunyi: tetap percaya, tetap berdoa, tetap melangkah. Maka hari ini, di bagian hidup mana aku sedang dipanggil untuk setia, dan apakah aku sungguh percaya bahwa di sanalah perkenanan Allah dinyatakan? (ACA)