Bacaan: Markus 3:31-35; Mazmur 68:5-7
Mana yang lebih penting: keluarga atau pelayanan? Mungkin kita sering mendengar pertanyaan tersebut atau bahkan sedang bergumul tentangnya. Kalau pertanyaan itu kita perluas, maka akan menjadi: Jika kita menganggap keluarga lebih penting, apakah berarti kita akan mengabaikan pelayanan? Dan jika kita anggap pelayanan lebih penting, apakah kita akan mengabaikan keluarga? Tentunya kita akan segera menjawab: Tidak!
Keluarga dan pelayanan memang seharusnya tidak menjadi dua hal yang dipertentangkan, melainkan justru saling terkait dan saling mempengaruhi. Ketika kita memperhatikan dan membangun hidup berkeluarga dengan baik, maka kita akan melahirkan generasi-generasi yang cinta Tuhan dan rindu melakukan pelayanan bagi Tuhan. Ketika kita melakukan pelayanan dengan tulus dan karakter kita makin terasah dalam pelayanan tersebut, maka akan berdampak positif bagi keharmonisan dalam keluarga. Jadi bukan soal mana lebih penting, tapi apa landasan yang kita pakai dalam melakukan sesuatu.
Maka ketika suatu kali Yesus sedang mengajar lalu orang banyak memberitahukan kepada Yesus bahwa ibu dan saudara-saudara-Nya ada di luar dan Yesus menjawab, “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-Ku? Siapa saja yang melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku dan ibu-Ku” (Markus 3:31-35), bukan berarti Yesus ingin menolak kehadiran keluarga-Nya. Tapi Yesus ingin menekankan kepada orang banyak agar memusatkan hidupnya pada Tuhan Allah. Jika kita melekat pada Allah dan melakukan apa yang menjadi kehendak-Nya, maka perhatian kita akan bisa semakin luas. Kita bisa mengasihi anggota keluarga inti secara penuh, namun kita juga masih bisa punya hati untuk menjadi saluran kasih Kristus bagi sesama yang lain. Dengan demikian “rumah” kita akan semakin luas. Rumah bukan dalam arti bangunan fisik, melainkan ruang berbagi kehidupan dengan sesama. Bersediakah kita membangun rumah yang semakin luas? Eratkanlah lebih dulu hati kita kepada Kristus, Sang Sumber Cinta Sejati. (RKG)