Jika kita membaca Kejadian 41:38-43, hidup Yusuf tampak seperti kisah yang berkilau. Ia diberi cincin meterai raja, mengenakan pakaian halus, dikalungi emas, dan semua orang berlutut hormat kepadanya. Dalam sekejap, statusnya berubah dari narapidana menjadi orang nomor dua di Mesir. Namun, di balik kemuliaan itu, terbentang jalan yang sangat panjang dan berliku. Selama belasan tahun, Yusuf melewati “tikungan” kehidupan yang tajam dan menyakitkan.

Yusuf pernah dijatuhkan ke dalam sumur oleh saudaranya sendiri, dijual sebagai budak, difitnah saat ia memilih hidup benar, dan dilupakan di penjara ketika ia berbuat baik. Di setiap fase itu, ia bisa saja menyerah dan membiarkan hatinya mengeras. Namun Yusuf memilih setia, tetap jujur, menjaga kekudusan, dan mempercayakan hidupnya kepada Tuhan, bahkan ketika hari esok tampak gelap dan tak menentu.

Kesetiaan itulah yang akhirnya dikenali dunia. Firaun berkata, “Mungkinkah kita mendapat orang seperti ini, seorang yang penuh dengan Roh Allah?” Kenaikan Yusuf bukanlah keberuntungan sesaat, melainkan buah dari karakter yang ditempa dalam air mata. Jalan berliku itu tidak sia-sia; Tuhan memakainya untuk membentuk kedalaman jiwa dan keteguhan iman.

Maka mari kita bercermin ke dalam diri: di jalan berliku mana aku sedang berjalan hari ini? Dalam kesunyian dan ketidakpastian itu, apakah aku masih memilih setia, atau mulai tawar dan lelah? Apakah aku tetap memelihara hati yang jujur dan takut akan Tuhan, meski tidak ada yang melihat dan belum ada jawaban? Dan jika kelak Tuhan mempercayaiku hal yang lebih besar, apakah aku sungguh siap? (ACA)

You May Also Like

Ayub dan Para Sahabatnya Penghibur Sejati VS Penghibur Sialan

“Sudah jatuh terjepit eskalator”, itulah Ayub. Dirinya menderita lahir batin,  sahabat-sahabatnya datang…

Diberi Berbeda Agar Saling Memperlengkapi

Efesus 4:1-16   Kelima jari yang kita miliki, memiliki nama, bentuk, dan…

Berbela Rasa Pada Semua

Berbela rasa adalah sebentuk sikap yang digerakkan oleh empati, turut merasakan pergumulan…