GKI Peterongan

Tugas Kenabian Masa Kini

Mal. 3:1-4; Luk. 1:68-79; Flp. 1:3-11; Luk. 3:1-6
George F. Will dalam bulan Desember 1981 sesudah pengumuman darurat di Polandia mengatakan, ‘Amarah kita meluap justru karena ketiadaan amarah orang-orang’. Dunia ini membutuhkan lebih banyak luapan amarah dan kemurkaan yang sejati atas kejahatan yang merupakan penghinaan bagi Allah. Kita tidak boleh mentolerir apa yang tidak ditolerir Allah. Tetapi amarah harus steril dan mendorong kita bertindak positif untuk memperbaiki apa yang menimbulkan amarah kita. ‘Orang percaya harus menentang hal-hal yang tidak benar dan yang bertentangan dengan kehendak Allah’ demikian tulis John Stott. Ahok Gubernur DKI Jakarta menyebutnya menyuarakan suara ke’nabi’an (prophetical voice).
Yohanes Pembaptis diutus untuk mempersiapkan kedatangan Tuhan Yesus dengan tugas menyerukan pertobatan. Ia dengan penuh keberanian mengajak orang berbalik kepada Allah bahkan mengecam mereka yang menyelewengkan kebenaran. Termasuk para penguasa di zaman itu. Karena tugas sucinya itu ia harus membayar harga yang teramat mahal; kepalanya dipisahkan dari tubuhnya. Hal yang sama dilakukan oleh Paulus, di tengah tantangan yang begitu berat ia dengan penuh keberanian memberitakan Injil Allah tanpa kegentaran. Tujuannya agar Kebenaran dikenal dan Allah dimuliakan menjelang kedatangan Kristus. Penderitaan panjang juga dideritanya sebelum mati dengan kepala dipenggal. Tetapi kematian mereka berharga di mata Allah.
Lalu bagaimana dengan kita? Di tengah merebaknya penyelewengan kebenaran dan diabaikannya nilai-nilai Ilahi, orang-orang percaya harus hadir menyuarakan suara ke’nabi’an menyatakan Kebenaran berapa pun harga yang harus dibayarnya. Agar kita dapat melakoninya biarlah kasih Kristus mendorong untuk menyatakannya, agar berita tentang pengampunan dan Kebenaran disampaikan kepada semua orang menjelang kedatangan-Nya. Seperti kisah orang-orang yang memercayai Allah dalam sejarah Alkitab, mereka berani mengambil risiko untuk menyatakan Kebenaran berapa pun harganya sebagai bukti mereka taat kepada Allah. Hal yang sama harus kita lakukan sebagai nabi-nabi Allah di masa kini. – PRB

Pieter Randan Bua

Pieter Randan Bua