GKI Peterongan

Yesus, Bait Allah Yang Sejati

Bersyukur bahwa pemerintah menaruh perhatian terhadap pengrusakan tempat-tempat ibadah dan kekerasan terhadap ulama/ pemuka agama akhir-akhir ini. Bukan hanya di zaman now, tetapi juga di zaman Yesus, orang tidak bisa membedakan lagi mana tempat yang suci dan tempat umum.
Ketika Yesus masuk ke halaman Bait Allah menjelang Paskah, Ia mendapati halaman Bait Allah dipakai untuk berjualan. Para pedagang binatang kurban dan penukar uang ada di sana. Hewan kurban yang boleh dipersembahkan diperiksa lagi kelayakannya. Uang Romawi yang bergambar dewa-dewi/ kaisar harus ditukar dengan uang persembahan khusus (uang Bait Allah). Yesus membuat cambuk dan mengusir semua pedagang itu seperti Satpol PP menertibkan pedagang kaki lima. Mengapa Yesus ”marah”?
Bait Allah adalah Rumah Allah. Meskipun hanya di halamannya, namun Yesus ingin mengajar bagaimana seorang yang menyebut dirinya beriman menghargai tempat ibadahnya. Di dalam Rumah Allah, Yesus hadir di sana (Mat 18 : 20). Oleh sebab itu mengapa selalu ada pemberitahuan dalam gereja agar tidak bercakap-cakap sendiri, asyik bermain HP, bahkan makan atau minum ketika ibadah berlangsung. Siapa yang akan menghargai Rumah Allah kalau bukan kita sendiri.
Yesus adalah Bait Allah sejati. Setelah mengusir para pedagang di Bait Allah -yang motivasinya hanya cari untung dengan memeras para peziarah- maka Yesus berkata:” Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali” (Yoh 2:19). Kata-kata ini terbukti ketika Yesus bangkit setelah tiga hari mati. Didalam Diri Yesus, ada Allah yang hidup dan berkuasa membersihkan orang-orang yang mengaku beriman tetapi hidupnya tidak bisa membedakan mana yang suci dan yang dosa. Ketika kita merasa sudah tidak nyaman lagi beribadat dan menjadi Kristen, berarti ada yang tidak beres dalam hidup rohani kita. Jangan tunggu ditegur Tuhan Yesus yang berkata: ”Jangan mengotori Rumah-Ku dengan berpura-pura rajin ke gereja tetapi hidupmu penuh dosa!” (AGP)

Pdt. Em. Andreas Gunawan

Pdt. Em. Andreas Gunawan