Di Indonesia banyak pejabat sebelum menjabat berjanji dan bersumpah akan menjalankan tugas sebaik-baiknya dan seadil-adilnya. Namun mereka tidak setia, dengan mengingkari janji dan sumpahnya yang diucapkan atas nama Tuhan. Akibatnya, mereka kehilangan kepercayaan dan menjadi bahan olok-olok oleh rakyatnya sendiri. Tak hanya itu, sangat banyak yang terpaksa mendekam di balik jeruji besi.
Lukas 16:10-17 mengajarkan kita tentang pentingnya menjadi pribadi yang bisa dipercaya. Dalam ayat 10, Tuhan berkata, “Barangsiapa setia dalam perkara kecil, ia juga setia dalam perkara besar. Dan barangsiapa tidak setia dalam perkara kecil, ia juga tidak setia dalam perkara besar.” Kita sering kali berpikir bahwa tanggung jawab kecil seperti menepati janji tidaklah penting, tapi Tuhan melihatnya sebagai kesempatan untuk membuktikan kesetiaan kita.
Tuhan juga berkata, “Tidak seorangpun dapat mengabdi dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan menyukai yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain.” (ayat 13). Kita harus memilih untuk mengabdi kepada Tuhan dan menjadi pribadi yang bisa dipercaya dalam segala sesuatu.
Menjadi pribadi yang bisa dipercaya bukan hanya tentang melakukan hal yang benar, tapi juga tentang memiliki hati yang setia dan taat kepada Tuhan. Ketika kita setia dalam perkara kecil, Tuhan akan mempercayakan kita dengan perkara yang lebih besar.
Jadilah, pribadi yang bisa dipercaya dalam mengelola segala sesuatu yang menjadi tanggung jawab kita, sehingga kita dapat mengalami pertumbuhan dalam relasi dengan Tuhan dan memaknai setiap tanggung jawab kita dengan benar. Dengan demikian, kita dapat menjadi saksi bagi Tuhan dan membawa kemuliaan bagi-Nya. (PRB)
‘Mereka yang memercayai Allah pasti menjaga dirinya menjadi pribadi yang dapat dipercaya dalam perkara kecil sekali pun’.