Dalam sebuah gelanggang Si Kuat, Si Mempesona, Si Pintar, Si Cerdas, Si Gigih, dan Si Gagah beradu Si Lemah mengaduh Karena hanya ada satu Harapan Sisanya pasti halu berangan-angan
Saling serang silang pukul Geruduk bergelut dalam gulat Si Lemah rebah terinjak-injak Sampai peluit panjang menjerit Tak ada jawara yang juara
Sang Empu yang empunya lomba Memberikan Harapan satu-satunya pada Si Lemah
Supaya yang rebut-ributkan Harapan sadar Harapan tidak perlu dirampas dari orang lain Kalau Si Lemah saja dapat Harapan Maka semua berhak Berpengharapan
Sebuah puisi yang saya beri judul “Piala Harapan” menjadi refleksi buat kita dalam memasuki Minggu Adven 1 ini. Menyadarkan kita bahwa tiap orang dapat senantiasa memiliki harapan, karena Tuhan menganugerahkan harapan itu untuk semua orang. Tapi, kita bisa mulai dari Saudari-Saudara kita yang paling lemah.
Jadilah perpanjangan tangan Tuhan untuk hadir, menopang, dan membawa harapan itu bagi mereka. Maka kita pun dikuatkan untuk melalui setiap masa dan musim: dalam lembah kekelaman sekalipun selalu ada secercah cahaya yang menuntun.
Jangan iri kepada yang lain. Jangan berusaha merenggut pengharapan dari mereka. Tuhan tidak pilih kasih. Ia punya masa depan yang penuh harapan untuk tiap pribadi. Jangan ragukan Tuhan, teruslah berpengharapan di dalam Dia. Selamat tahun baru gerejawi, selamat merayakan masa Adven, Tuhan beserta kita sekalian. (CPH)