Dalam perjalanan hidup, kita sering kali mendapati diri kita berdiri di tengah puing-puing kegagalan, kesedihan, atau harapan yang hancur. Namun, melalui pembacaan Amos 9:11-15 dan Mazmur 85:5, 8-14, kita disapa oleh sebuah kebenaran yang amat menyentuh: bagi Allah, “reruntuhan” bukanlah titik akhir dari pengharapan.
Nabi Amos menubuatkan janji Allah untuk memulihkan kembali “pondok Daud yang telah roboh” dan membangunnya kembali seperti di zaman dahulu. Ini adalah pesan kuat bahwa kuasa Tuhan sanggup merajut kembali apa yang telah terkoyak dan membangkitkan apa yang telah mati. Sebagaimana Mazmur 85 menggambarkan kasih dan kesetiaan yang bertemu, serta keadilan dan damai sejahtera yang berpelukan, kita diingatkan bahwa pemulihan Tuhan bersifat utuh—mencakup kedamaian batin maupun perbaikan keadaan.
Tuhan tidak hanya ingin kita sekadar bertahan di tengah reruntuhan persoalan. Ia memanggil kita untuk bangkit dan menjadi mitra-Nya dalam karya pemulihan bagi dunia. Sebagaimana janji-Nya dalam Yesaya, Tuhan akan membarui kekuatan kita sehingga kita menjadi seperti kebun yang diairi dengan baik, bahkan mampu membangun kembali reruntuhan yang sudah berabad-abad.
Oleh karena itu, janganlah biarkan keterpurukan menghentikan langkah kita. Kita memiliki keberanian untuk bangkit karena kita tahu bahwa melalui pengorbanan Kristus, kita telah disembuhkan dan dimerdekakan untuk hidup dalam kebenaran. Mari kita melangkah bersama Allah, Sang Pembangun Agung, dan izinkan Ia memakai hidup kita untuk menghadirkan kembali keindahan di tengah kehancuran dunia ini. Satu langkah ketaatan kita hari ini adalah bagian dari karya restorasi besar yang sedang Ia kerjakan. – PRB
Di hadapan Tuhan tak ada pengalaman yang sia-sia, semakin berat dan dalam luka kita, justru akan dipakai Tuhan untuk pelayanan kita yang paling besar