Bacaan: Habakuk 2:1-4; Mazmur 130
Berapa lama Anda tahan menunggu? Menunggu bis umum di pinggir jalan bisa bikin bete, tapi menunggu kereta api di stasiun gak masalah karena kita tahu kereta akan tiba jam berapa. Menunggu antrian ke-5 untuk masuk resto sangat tidak sabar, tapi ketika server mengatakan antrian 30 menit lagi kita bersedia menunggu sambil jalan-jalan. Menunggu inden mobil beberapa bulan membuat resah gelisah, tapi menunggu kelahiran anak 9 bulan membuat kita bahagia.
Jadi bukan soal berapa lama kita menunggu, tapi apakah ada kepastian atau tidak mengenai hal yang kita tunggu. Pada dasarnya manusia tidak suka menanti, selalu ingin cepat. Hal ini menunjukkan betapa terbatasnya manusia sehingga ketidakpastian bisa membuatnya begitu tidak nyaman dan ketakutan.
Namun sayangnya, kita tidak bisa menjadi penentu dalam segala hal. Bahkan ketika kita minta sesuatu kepada Yang Maha Kuasa pun, kadang kala jawabannya seperti ini: “Meskipun lambat, nantikanlah itu, sebab hal itu pasti akan datang dan tidak akan tertunda” (Habakuk 2:3b). Kita hanya diminta untuk menunggu, menunggu, dan menunggu, tanpa pernah diberi tahu kapan pastinya jawaban itu akan tiba. Akhirnya kita menjadi lelah dan enggan lagi untuk menunggu. Ada yang kemudian nekad melakukan upaya brutal, tapi ada pula yang jatuh terjerembab.
Apakah Tuhan begitu kejam? Tidak tahukah Ia batas ketahanan kita dalam menanti? Kenapa seakan Ia suka mengulur-ulur waktu? Ini penghiburan-Nya: “Orang benar akan hidup oleh percayanya” (Habakuk 2:4b). Tuhan tidak bermaksud mengabaikan janji-Nya, namun Ia juga tidak ingin kita terbuai dengan berbagai kemudahan. Tuhan rindu agar kita terus melekat dan bersandar kepada-Nya. Ajakan-Nya adalah untuk terus mempercayai kasih-Nya. Selambat apapun itu, di tangan Tuhan akan menjadi keindahan, sebab Ia yang paling mengerti soal ketepatan waktu. Maka setialah menunggu tanpa memberi batasan waktu. Menunggulah dengan tetap percaya kasih-Nya sejati. (RKG)