Ilustrasi faset: gulungan surat tersegel lilin merah di meja kayu, di samping lilin menyala, melambangkan janji yang ditepati

Bacaan: 2 Korintus 1:12-24; Mazmur 116:1-9

Kita tentu tidak suka dibohongi. Kalau ada orang pernah mengucapkan janji kepada kita namun tidak ditepatinya, kita pasti kesal dan ingin menuntut dia untuk memenuhinya. Namun apakah kita sendiri merupakan orang yang bisa selalu menepati janji? Mungkin bukan dengan kesengajaan untuk ingkar janji, mungkin kita punya alasan yang menurut kita bisa dipertanggungjawabkan. Tapi apapun alasannya, janji yang tidak ditepati tetap menimbulkan rasa kecewa pada si penerima janji. Lalu bagaimana perasaan kita ketika orang lain menuntut kita untuk memenuhi janji yang sulit untuk kita tepati?

Sebagai manusia, kita perlu menyadari dan mengakui keterbatasan kita dalam memenuhi janji. Dan oleh karena itu kita juga perlu dengan rendah hati memahami dan memaafkan jika ada seseorang yang karena alasan yang dapat dipertanggungjawabkan tidak bisa menepati janjinya. Seperti halnya yang dialami oleh Rasul Paulus. Ia pernah berjanji akan mengunjungi lagi Jemaat Korintus, namun ternyata ia mengubah rencananya. Bukan karena ia bertindak semaunya, tapi keputusan itu diambil justru demi menjaga hubungan baik dengan Jemaat Korintus (2 Korintus 1:15-18, 23-2:4). Saat itu sedang terjadi banyak masalah internal dalam Jemaat Korintus, seperti perpecahan, pengaruh guru-guru palsu, pertentangan terhadap kerasulan Paulus, dsb. Jika Paulus memaksakan diri datang ke sana dikuatirkan akan berujung pada kemarahan, ketegangan dan akhirnya menimbulkan dukacita. Maka Paulus memilih untuk mengirimkan surat pastoral terlebih dahulu agar Jemaat memiliki kesempatan untuk berbenah diri dan bertobat. Sehingga jika nantinya Paulus datang ke Korintus, perjumpaan yang terjadi akan menghadirkan sukacita.

Meski Paulus belum bisa menepati janjinya, ia mengajak umat untuk tidak larut dalam kecewa, melainkan mengarahkan hati pada janji Tuhan yang pasti ya dan amin (2 Korintus 1:19-22). Tuhan tidak pernah mengecewakan manusia. Apa yang telah dijanjikan-Nya pasti ditepati, sebab Tuhan punya kuasa untuk mengerjakannya. Maka jangan bersandar pada janji manusia, melainkan pada janji Tuhan dan nikmatilah penyertaan-Nya yang tiada berkesudahan. (RKG)

You May Also Like

Serukan Berita Pertobatan

Dengan berkembangnya media sosial, kita dapat dengan mudah mengunggah dan mengunduh berita-berita…

Menyuarakan Kebenaran

Budaya risih atau perasaan “sungkan” seringkali membuat kita enggan untuk menegur seseorang…

Persiapan Memberitakan Injil

Jika Anda akan berolahraga, apa yang sebaiknya Anda lakukan terlebih dahulu?…. Ya,…