Lukisan cat air: salib kayu sederhana berdiri di padang terbuka dengan tunas hijau kecil tumbuh di dasarnya

Bacaan: 1 Korintus 1:18-31; Mazmur 111:1-10

Manusia seringkali mengukur keberhasilan melalui jabatan, pengetahuan, kekayaan, kesehatan, prestasi, ataupun pengakuan orang lain. Ukuran itu bahkan dapat menyusup ke dalam kehidupan bergereja: pelayanan dianggap berhasil ketika dihadiri banyak orang, atau mendapat banyak apresiasi. Sementara itu, kesetiaan yang sederhana mudah dilupakan. Namun, apakah hal-hal yang mengagumkan manusia itu selalu berkenan kepada Allah? Allah mengajak kita melihat kehidupan dengan ukuran yang berbeda. Melalui salib Kristus, kita diajar bahwa hikmat Allah yang sempurna bukanlah jalan untuk meninggikan diri, melainkan kasih yang meruntuhkan kesombongan, demi menghadirkan keselamatan.

Paulus menyampaikan pesan ini kepada jemaat Korintus yang sedang dalam ancaman perpecahan. Pemberitaan tentang Kristus yang disalibkan menegur kebanggaan diri mereka. Orang Yahudi menghendaki tanda, sedangkan orang Yunani mencari hikmat; tetapi Allah menyatakan kuasa dan hikmat-Nya melalui Kristus yang tersalib. Apa yang dianggap hina dan lemah justru menjadi jalan keselamatan bagi dunia. Paulus juga mengingatkan bahwa tidak banyak anggota jemaat berasal dari kalangan yang terpandang di mata dunia. Allah memilih mereka yang dipandang rendah, supaya tidak seorang pun memegahkan diri di hadapan-Nya. Dasar keberadaan mereka bukan pada keunggulan pribadi masing-masing, melainkan karya Allah dalam Kristus yang menjadi hikmat, kebenaran, dan penebusan bagi mereka. Karena itu, kemegahan jemaat seharusnya tertuju kepada Tuhan, bukan kepada manusia.

Sebagai umat Allah di masa kini, marilah kita menghidupi hikmat Allah dengan menata kembali sikap dan tindakan kita sehari-hari. Berhentilah menilai sesama berdasarkan pendidikan, pekerjaan, kekayaan, dan sebagainya. Sapalah sesama yang sering terabaikan, berikan ruang baginya untuk bertumbuh dan melayani bersama. Ketika berbeda pendapat, utamakan kesatuan daripada kemenangan pribadi. Kerjakan pelayanan dengan setia. Pilihlah meminta maaf daripada mempertahankan gengsi. Sebelum mengambil keputusan, tanyakan: apakah tindakan ini memuliakan Kristus dan menyatakan kasih-Nya? Dengan demikian, salib bukan hanya kita beritakan, tetapi juga membentuk cara hidup sehari-hari. Kiranya panggilan ini terus kita hidupi pula sebagai gereja Tuhan yang sedang merayakan sukacita ulang tahun ke-60. Kasih setia Tuhan yang tak berkesudahan kiranya menggetarkan kita untuk terus hidup dalam hikmat-Nya dan mempersaksikan kebaikan-Nya. (HAS)

You May Also Like

Menghayati Kerendahan Hati Maria, Ibu Yesus

Mikh. 5:2-5, Luk. 1:46-55, Ibr. 10:5-10, Luk. 1:39-55 Hannah Whitall Smith berkata,…

Lidah Seorang Murid

Pak Bowo hampir diterima bekerja. Tes psikologi lolos. Keterampilan oke. Pengalaman segudang.…

Komunitas Yang Dipulihkan

Apa yang menjadi Kekuatan sebuah komunitas? Bukan pada kejeniusan para pemimpin mengelola…

Dia yang Memulihkan

Memulihkan berarti menjadikan suatu keadaan baik atau sehat kembali seperti semula. Siapa…