Bacaan: Kolose 1:15-28; Mazmur 62:1-9
Kita hidup di tengah dunia di mana harapan sering digantungkan pada harta, kesehatan, jabatan, atau manusia yang mudah mengecewakan. Firman Tuhan hari ini mengajak kita kembali pada pusat pengharapan yang sejati, yaitu Kristus. Rasul Paulus menulis surat kepada jemaat Kolose yang sedang digoyahkan oleh ajaran-ajaran yang menawarkan “harapan tambahan” di luar Kristus. Mereka mulai ragu, apakah Kristus saja cukup. Pertanyaan yang sama sering muncul dalam hidup kita: apakah Yesus saja cukup bagi kita saat kita sakit, saat ekonomi sulit, saat masa depan tampak tidak pasti?
Paulus dengan sangat jelas memaparkan siapa Kristus sebenarnya. Kristus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, yang lebih utama dari segala yang diciptakan. Di dalam Dia segala sesuatu diciptakan dan di dalam Dia pula segala sesuatu bertahan. Kristus juga adalah Kepala jemaat, dan melalui darah-Nya di salib, Ia telah mendamaikan kita dengan Allah (ay.20-22). Kita yang dahulu jauh dari Allah, kini menjadi dekat, dikuduskan di hadapan-Nya. Inilah rahasia yang mulia itu: “Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan!” (ay.27). Harapan kita bukan pada sistem tertentu, bukan pada kekuatan diri kita, melainkan pada Kristus, Pribadi yang berkuasa dan memerintah atas semesta.
Lalu bagaimana kita hidup dengan harapan ini setiap hari? Pertama, berhentilah mencari jaminan di luar Kristus. Saat cemas datang, ingatlah bahwa hidup kita ditopang oleh Dia yang menopang alam semesta. Kedua, tinggallah di dalam Dia. Luangkan waktu membaca Firman dan berdoa, bukan sebagai kewajiban, melainkan sebagai cara kita melekatkan hati pada sang sumber pengharapan. Ketika hati kita melekat pada Kristus, kita akan dimampukan untuk meresponi setiap peristiwa yang terjadi dengan iman. Ketiga, bagikan harapan itu bagi banyak orang yang kita jumpai. Di rumah, di tempat kerja, di tengah jemaat, jadilah saksi bahwa hanya Kristus yang memberi harapan yang tidak mengecewakan. Karena Kristus ada di dalam kita, kita tidak pernah hidup tanpa harapan.(HAS)