GKI Peterongan

Dont Label Me: Jangan Memberi Label Pada Saya

Alkisah ada seorang anak yang mengamat-amati sekelompok tanaman bunga yang unik di sudut taman. “Tanaman yang aneh,” kata anak ini. “Bentuknya jelek, bunganya kecil-kecil dan berwarna suram.”
Keesokan harinya, anak ini kembali. Ia menemukan bunga itu telah berubah bentuk dan warna. Kelopaknya makin membesar, dan muncul warna ungu yang terang menyala. “Ini pasti tanaman pemakan serangga. Warna bunganya yang mencolok digunakan untuk memikat serangga supaya terjerat di kelopaknya yang besar.”
Esok harinya lagi, ia menjumpai tanaman bunga yang sama. Ia melihat, warna bunganya makin melembut menjadi ungu muda. Kelopaknya juga bersusun cantik. Banyak lebah madu hinggap dan pergi. Anak ini kemudian berpikir, “Ternyata ini bukan tanaman pemakan serangga. Lebah-lebah banyak datang menghisap madunya. Bunganya juga cantik. Tapi, siapa yang mau memetik bunga-bunga ini dan menempatkan di rumahnya? Ini hanya tanaman liar.”
Esoknya, anak ini hendak menengok bunga-bunga itu kembali. Dan ia tidak menemukannya. Ia bertanya kepada salah seorang penduduk desa yang lalu lalang di sana. “Ke mana bunga-bunga yang tumbuh di sini?” tanyanya. “Baru saja pagi tadi dibawa oleh salah seorang prajurit Raja untuk ditempatkan di istana Raja.”
Apa yang kita temukan dari kisah dongeng di atas adalah, anak ini terlalu cepat memberikan label. Pertama-tama ia menyebut tanaman bunga itu sebagai tanaman yang aneh, lalu tanaman pemakan serangga, lalu tanaman liar. Dan ketika bunga-bunga itu diambil oleh Raja, ia terkejut, karena semua label yang diberikannya meleset. Di istana Raja, tanaman bunga itu menjadi hiasan yang indah dan bernilai tinggi.
Kita boleh saja memiliki kesan pertama terhadap sesuatu atau seseorang. Tetapi menjadikan kesan itu sebagai label yang kita sematkan secara permanen adalah suatu kekeliruan besar. Mengapa? Karena, pertama, banyak hal bisa berubah, terutama manusia. Kedua, apa yang ditampilkan di luar, belum tentu sama dengan apa yang ia simpan di dalam hati. Jati dirinya, siapa dirinya sesungguhnya, tidak melulu dapat dinilai dari penampilan luarnya. Perhatikan baik-baik bagaimana Samuel hendak memilih siapa yang diurapi dari antara anak-anak Isai (1 Sam. 16:1-3). Ketiga, Tuhan mampu dan berhak untuk menghadirkan perubahan. Itu juga yang diungkapkan dalam Mazmur 113. Seperti sang Raja dalam dongeng tadi, jika Tuhan berkehendak, Tuhan bisa mengangkat dan memulihkan hidup seseorang. (XND)

Add comment

Arsip