Impian
Masa depan
Andai menjauh
Nyatanya lenyap
Yang sedikit-sedikit
Ah tak pernah jadi bukit
Nasib tulis surat pada takdir
Gagal bercerita kabar sukacipta
Tak buat suka, tak buahkan cipta
Eh malah terus melongsor berguguran
Godaan merayu meneteskan gula di kala sayu
Untunglah Kalam mendayu, menghenyak ragu
Hantarkan diri terpancang kokoh sepanjang selalu
—————————
Sebuah puisi konkret yang saya beri judul “Tegak Berdiri Di Sisi” ini
sengaja dibuat dengan tipografi visual seperti sebuah tembok yang
runtuh atau tanah yang longsor, untuk menggambarkan tantangan
yang seringkali menghadang umat percaya di masa yang akan datang
atau bahkan di zaman akhir. Persis seperti nubuat Yesus mengenai
Bait Suci yang akan diruntuhkan, menjadi tantangan iman tersendiri
bagi pengikut Yesus di era berikutnya. Akan tetapi, iman yang teguh
selalu membuat kita dapat tegak berdiri, bertahan menghadapi tiap
tantangan dan godaan. Ia bagai tiang pancang yang kuat memegang
seluruh bangunan. Maka setiap huruf pertama tiap baris yang
membujur di sisi kiri dari atas ke bawah menyusun sebuah frasa:
“Iman yang Teguh”.
Maka pesan buat kita sekalian: apapun yang terjadi, walau impian
memudar, walau masa depan semakin suram, segala sesuatu luluh
lantak, jangan menyerah. Bertahanlah dalam Kristus, berpeganglah
pada iman yang teguh. (CPH)